<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Journalistiani's Weblog</title>
	<atom:link href="http://journalistiani.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://journalistiani.wordpress.com</link>
	<description>Just another WordPress.com weblog</description>
	<lastBuildDate>Sat, 05 Jun 2010 07:18:32 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='journalistiani.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Journalistiani's Weblog</title>
		<link>http://journalistiani.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://journalistiani.wordpress.com/osd.xml" title="Journalistiani&#039;s Weblog" />
	<atom:link rel='hub' href='http://journalistiani.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>PEMBERDAYAAN ANAK JALANAN</title>
		<link>http://journalistiani.wordpress.com/2010/06/05/pemberdayaan-anak-jalanan/</link>
		<comments>http://journalistiani.wordpress.com/2010/06/05/pemberdayaan-anak-jalanan/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 05 Jun 2010 07:18:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>journalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journalistiani.wordpress.com/?p=31</guid>
		<description><![CDATA[Sejumlah masalah sosial tampaknya akan terus membayangi Kota Bandung. Meskipun telah dilakukan langkah penanganan oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung, jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) cenderung meningkat setiap tahun. Jumlah anak jalanan menurut data Dinsos Kota Bandung pada 2007 mencapai 4.212.  Pada 2009 jumlah tersebut menjadi 4.821 atau naik 609 anak. Mereka yang termasuk [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=31&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Sejumlah masalah sosial tampaknya akan terus membayangi Kota Bandung. Meskipun telah dilakukan langkah penanganan oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung, jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) cenderung meningkat setiap tahun.</p>
<p>Jumlah anak jalanan menurut data Dinsos Kota Bandung pada 2007 mencapai 4.212.  Pada 2009 jumlah tersebut menjadi 4.821 atau naik 609 anak. Mereka yang termasuk dalam kategori anak jalanan adalah anak berusia lima sampai delapan belas tahun dan berkeliaran di jalan atau tempat umum minimal empat jam/hari dalam kurun waktu satu bulan. Sementara itu, gelandangan dan pengemis yang pada 2007 berjumlah 4.714, pada 2009 menjadi 5.074 atau naik 360 orang.</p>
<p>Data tersebut menunjukkan lonjakan jumlah anak jalanan di Kota Bandung memprihatinkan. Padahal, sebagai cikal bakal generasi penerus, mereka seharusnya dipersiapkan untuk masa depan bangsa, bukannya dibiarkan bergelut dengan ”ilmu jalanan” yang cenderung merusak. Bandung juga mulai dikenal dengan sebutan baru sebagai ”Kota Anak Jalanan”.</p>
<p>Data yang diperoleh Dinsos sungguh memprihatinkan 609 anak putus sekolah, mereka adalah cikal bakal penerus bangsa ini, dengan alasan putus sekolah mereka menyambung hidupnya degan mengemis, mengamen dijalanan, penyebab utama mereka putus sekolah dikarnakan sudah tidak sanggup lagi membiayai dan pernyataan itu terlontar dari orang tua yang kebetulan anaknya putus sekolah dan berkerja dijalanan.</p>
<p>Sistem ekonomi yang menjadi penyebab utama, sungguh ironis para generasi muda minimakan pengetahuan, yang didapat hayalah bagaimana caranya bertahan hidup, padahal dengan bersekolah semua ilmu akan didapat dan perkerjaan yang diperoleh jauh lebih bagus, bangsa ini sudah mengalami krisis kepercayaan pemimpin , jika generasi penerus yang akan menjadi calon-calon pemimpin akan mengalami kegagalan dalm pencalonan karena pendidikan mereka sangatlah minim, bagaiman bangsa kita akan maju jika pendidikan belum dibenahi oleh para pemerintahan.</p>
<p>Berdasarkan berbagai fakta masalah, penyusun merumuskan masalah anak jalanan di kota Bandung, Anak-anak Jalanan di kota Bandung adalah anak-anak dari keluarga miskin yang karena faktor ketidakmampuan ekonomi keluarganya menyebabkan mereka terpaksa atau dipaksa untuk bekerja di jalan-jalan yang ada di kota Bandung tanpa bekal pendidikan, pengetahuan dan keterampilan yang memadai.</p>
<p>Penghasilan Anak Jalanan di kota Bandung umumnya sangat rendah sehingga tidak mempunyai daya ungkit terhadap perbaikan ekonomi kehidupannya dan keluarganya sehingga mempunyai kecenderungan yang besar untuk hidup dalam lingkaran kemiskinan, Anak Jalanan di kota Bandung rentan terhadap berbagai tindak kekerasan fisik, psikis dan seksual.</p>
<p>Program-program penanganan anak jalanan yang dilakukan oleh Pemerintah maupun pihak-pihak swasta (LSM), antara lain program Rumah Singgah terbukti tidak efektif dan tidak menyelesaikan masalah, Anak jalanan yang sudah mendapatkan pelatihan keterampilan dan bantuan dari Pemerintah maupun pihak-pihak lain terpaksa kembali ke jalan karena kondisi ekonomi keluarganya yang miskin.</p>
<p>Masyarakat yang berdaya adalah mereka yang memperoleh pemahaman dan mampu mengawasi daya-daya sosial, ekonomi, dan politik sehingga harkat dan martabatnya meningkat.</p>
<p>Lebih jauh, Kindervatter (1979 : 13) mendefinisikan pemberdayaan atau empowering sebagai &#8220;people gaining an understanding of and control over social, economic, and/or political forces in order to improve their standing in society&#8221;.</p>
<p>Anak jalanan adalah anak yang terkategori tak berdaya. Mereka merupakan korban berbagai penyimpangan dari oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Untuk itu, mereka perlu diberdayakan melalui demokratisasi, pembangkitan ekonomi kerakyatan, keadilan dan penegakan hukum, partisipasi politik, serta pendidikan luar sekolah.</p>
<p>Anak jalanan, pada hakikatnya, adalah &#8220;anak-anak&#8221;, sama dengan anak-anak lainnya yang bukan anak jalanan. Mereka membutuhkan pendidikan. Pemenuhan pendidikan itu haruslah memperhatikan aspek perkembangan fisik dan mental mereka. Sebab, anak bukanlah orang dewasa yang berukuran kecil. Anak mempunyai dunianya sendiri dan berbeda dengan orang dewasa. Kita tak cukup memberinya makan dan minum saja, atau hanya melindunginya di sebuah rumah, karena anak membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang adalah fundamen pendidikan. Tanpa kasih, pendidikan ideal tak mungkin dijalankan. Pendidikan tanpa cinta menjadi kering tak menarik.</p>
<p>Dalam mendidik anak, ibu dan ayah harus sepaham. Mereka harus bertindak sebagai sahabat anak, kompak dengan guru, sabar sebagai benteng perlindungan bagi anak, menjadi teladan, rajin bercerita, memilihkan mainan, melatih disiplin, mengajari bekerja, dan meluruskan sifat buruk anaknya (misalnya : berkata kotor, berkelahi, suka melawan, pelanggaran sengaja, mengamuk, keras kepala, selalu menolak, penakut, manja, nakal), Keluarga yang ideal dan kondusif bagi tumbuh-kembangnya anak, sangat didambakan pula oleh anak-anak jalanan. Keluarga ideal bagi tumbuh kembang anak itu dapat digambarkan sebagai berikutt.</p>
<p>Pendidikan, pada prinsipnya, hendaknya mempertahankan anak yang masih sekolah dan mendorong mereka melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, juga memfasilitasi anak yang tak lagi bersekolah ke program pendidikan luar sekolah yang setara dengan sekolah. Program itu antara lain berupa : Kejar Paket A dan Kejar Paket B yang merupakan program pendidikan setara SD/SLTP dan pelatihan-pelatihan.</p>
<p>upaya pemberdayaan kepada anak-anak jalanan seyogyanya terus digalakkan melalui berbagai penyelenggaraan program pendidikan luar sekolah (misalnya : Kejar Paket A, Kejar Paket B, Kejar Usaha, bimbingan belajar dan ujian persamaan, pendidikan watak dan agama, pelatihan olahraga dan bermain, sinauwisata, pelatihan seni dan kreativitas, kampanye, forum berbagi rasa, dan pelatihan taruna mandiri).</p>
<p>Penyelenggaraan program tersebut seyogyanya menerapkan partisipasi/kolaborasi maksimal, yaitu melibatkan berbagai pihak secara lintas sektoral, lintas disiplin ilmu, dan lintas kawasan dalam kerjasama secara maksimal, baik para akademisi maupun praktisi.</p>
<p>Anak jalanan masih berpeluang untuk mengubah nasibnya melalui belajar; karena itu perlu menggali sumber atau pendukung program. Agar anak-anak jalanan mau mengikuti program, maka sumber belajar harus bersikap empati dan mampu meyakinkan kepada mereka, bahwa program pendidikan tersebut benar-benar mendukung pengembangan diri mereka. Untuk itu, penguasaan terhadap karakteristik dan kebutuhan belajar anak-anak jalanan akan sangat membantu para sumber belajar untuk bersikap empati kepada mereka.</p>
<p>Benrbagai peluar banyak sekali jika ada yang memeperhatikan keadaan sekitar, dengan keberadaan anak jalanan tidak sedikit merasa terganggu dengan keberadaan mereka dijalanan, karena lalulintas bukan tempat area bermain, tapitidak sedikit juga yang merasa iba dengan apa yang mereka alami, dari sana bisa mengulurkan bantuan bisa dengan cara menyediakan lapangan kerja atau memberikan pelatihan khusus buar mereka, walaupun mereka kurang pengetahuannya tentang keilmuan bukanbereti mereka tidak sanggup menerima pelatihan yang akan jadi bekal mereka kelak.</p>
<p>Setelah diperhatikan ternyata bantuan selalu ada, mulai diadakannya belajar bersama dijalanan, dan ada juga yang mengikuti pelatihan musik, dan pelatihan lainya yang bisa jadi penopang hidup mereka, tapi yang terpenting adalah peran orang tua yang sangat mempengaruhi sikap, prilaku anak-anak, karena peran merekalah yangpaling penting, bimbingan harus selalu diberikan bila orang tua sudah tidak bisa memebrikan bimbingannya maka sulit untuk merubah sikapnya sendiri, perhatian orang tua yang paling penting.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/journalistiani.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/journalistiani.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/journalistiani.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/journalistiani.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/journalistiani.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/journalistiani.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/journalistiani.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/journalistiani.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/journalistiani.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/journalistiani.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/journalistiani.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/journalistiani.wordpress.com/31/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/journalistiani.wordpress.com/31/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/journalistiani.wordpress.com/31/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=31&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journalistiani.wordpress.com/2010/06/05/pemberdayaan-anak-jalanan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe55cbe960b2550166f05aa42ddeb809?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">journalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAB 4 PRINSIP-PRINSIP  KOMUNIKASI MENURUT AL-QURAN</title>
		<link>http://journalistiani.wordpress.com/2010/05/04/bab-4-prinsip-prinsip-komunikasi-menurut-al-quran/</link>
		<comments>http://journalistiani.wordpress.com/2010/05/04/bab-4-prinsip-prinsip-komunikasi-menurut-al-quran/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 04 May 2010 16:36:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>journalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journalistiani.wordpress.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[BAB 4 PRINSIP-PRINSIP KOMUNIKASI MENURUT AL-QURAN Al-quran menyebutkan komunikasi sebagai salah satu fitrah manusia,untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya berkomunikasi, ternyata sudah jelas di Al-quran memberikan beberapa kata kunci yang berhubungan dengan hal itu. Yaitu Asy-syaukoni, misalnya mengartikan kata kunci al-bana sebagai kemampuan bekomunikasi. Allah menciptakan manusia mengajarkan al-bana (pandai berbicara)seperti didalam ayat Ar-Rahman ayat 1-4. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=26&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>BAB 4</p>
<p>PRINSIP-PRINSIP</p>
<p>KOMUNIKASI MENURUT AL-QURAN</p>
<p>Al-quran menyebutkan komunikasi sebagai salah satu fitrah manusia,untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya berkomunikasi, ternyata sudah jelas di Al-quran memberikan beberapa kata kunci yang berhubungan dengan hal itu. Yaitu Asy-syaukoni, misalnya mengartikan kata kunci al-bana sebagai kemampuan bekomunikasi.</p>
<p>Allah menciptakan manusia mengajarkan al-bana (pandai berbicara)seperti didalam ayat Ar-Rahman ayat 1-4. untuk mengetahui manusia seharusnya berkomunikasi dengan selalu melacak kata-kata kunci di dalamal-quran unutk berkomunikasi.</p>
<ol>
<li>PRINSIP-PRINSIP QAULAN SADIDAN</li>
</ol>
<p>Kata qaulan sadidan disebut dua kali dalam Al-quran. Pertama Allah menyuruh manusia menyampaikan qaulan sadidan dalam urusan anak yatim dan keturunannya, “Dan hendaklah orang-orang takut kalau dibelakang hari, mereka meninggalkan keturunan yang lemah yang mereka kwatirkan” (kesejahtraannya). Hendaklah mereka bertaubat kepada Allah dan berkata qaulan sadidan.</p>
<p>Kedua, Allah memerintahkan qaulan sadidan sesudah takwa:</p>
<p>“hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkan qaulan sadida. Nanti Allah akan membaikan amal-amalkamu, mengampuni dosa kamu. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya ia mencapai keberuntungan yang besar.”</p>
<p>Apa artinya qaulan sadidan?? Qaulan sadidan artinya pembicaraan yang benar, jujur (pichhall menerjemahkannya straight to the paoin), lurus tidak bohong, dan tidak berbelit-belit. Prinsip komunikasi yang pertama menurut al-quran adalah berkata benar.</p>
<p>Al-quran menyatakan bahwa berbicara yang benardan menyampaikan pesan yang benar adalh persyaratan untuk kebesaran kebaikan, kemaslahatan amal. Apabila kita ingin mnyukseskankarya kita dan memperbaiki masyarakat kita, kita harus menyebarkan pesan yang benar. Dengan kata lain masyarakat menjadi rusak apabila isi pesan komunikasi tidak benar da menyembunyikan kebenaran karena takut menghadapi rezim penguasa. Rezim yang mengnegakkan sistemya di atas penipuan atau kebohongan menurut Al-quran tidak akan bertahan lama.</p>
<p>Alferd Korzybski, peletak dari dasar teori general sematik menyatkan bahwa penyakit jiwa, baik individual maupun sosial, tibul karena penggunaan bahasa yang tidak benar, makin sering seseorang menyembunyikan kebenaran  maka mereka sering memakai kata-kata yang sering menutupi kebenaran. <em>Pertama</em>: mengunakan kata-kata yangb sangat abstrak, ambigu, atau menimbulkan penafsiran yang sangat belainan apabila kita tidak setuju dengan pandangan kawan kita. Sebetulnya manusia tidak tahan dikritik, tapi manusi bisa mengelak akan hal itu, mereka akan jawab kl mereka siap dikritik tapi dengan satu syarat cara penyampaian kritikannya disampaikan secara bebas dan bertanggung jawab. Dari sini bisa kita lihan kata tanggung jawab kata-kata abstrak untuk menghilangkan dari kritikan.</p>
<p><em>Kedua</em>: menciptakan istilah yang diberi makna lain berupa eufimisme atau pemutarbalikan makna, pemutarbalikan makna terjadi bila kata-kata yang digunakan sudah diberikan makna yang sama sekali bertentangan dengan makna yang lazim. Al-quran mengajarkan bahwa salah satu strategi memperbaiki masyarakat ialah membereskan bahasa yang kita pergunakan untuk mengunakan realitas, bukan untuk menyembunyikan.</p>
<ol>
<li>TIDAK BOHONG</li>
</ol>
<p>Arti dari kata qaula sadidan adalah tidak bohong. Nabi Muhammad SAW bersabda “jauhi dusta, karena dusta membawa kamu pada dosa, dan dosa membawa kamu pada neraka. Lazimkanlah berkata jujur, karena jujur membawa kamu pada kebajikan, membawa kamu pada surga.”Al-quran menyuruh kita selalu bekata benar, supaya kita tidak meninggalkan keturunan yang lemah. Anak-anak dilatih berkata jujur, kejujuran akan melahirkan kekuatan dan kebohongan akan melahirkan kelemahan. Biasa berkata benar mencerminkan keberanian, kebohongan mencerminkan kelemahan.</p>
<ol>
<li>BAHAYA BOHONG</li>
</ol>
<p>Nabi Muhammad SAW dengan mengutip Al-quran menjelaskan bahwa orng beriman tidak akn berdusta. Dalam perkembangan sejarah, umat islam sering dirugikan karena berita-berita dusta. Yang paling parah ketika berbohong memasuki teks-teks suci yang menjadi rujukan. Kebohongan tidak berhasil memasuki al-quran karena keaslian al-quran dijamin oleh Allah (juga karena kaum muslimin hanya memiliki satu mushaf al-quran). Tetapi kebohongan telah menyusup kedalm penafsiran al-quran makna al-quran pernah disimpangkan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Dalam al-quran sudah jelas bahwa bohong itu salah satu perbuatan yang dilarang karena akan menimbulkan marabahaya yang besar.</p>
<p>Jika kita melihat disekitar kita banyak sekali yang terjerumus dengan kebohongannya sediri, dan mereka mendapatkan hasil yang setimpal. Banyak sekali yang bisa kita angkat menjadi salah satu contoh, kita gambarkan seperti kasus yang menimpah mantan ketua KPK Antasari Azhar, beliau sudah berbohong dengan mencari-cari alasn dengan cara semua orang yang terlibat ternyata petinggi Negara semua, dan akhirnya kebohongan terungkap semua setelah jatuh korban, dan ternyata semua yang terlibat mendapat hasil yang setimpal maka janganlah berani berbohong karena bahaya bohong lebih berat dan sadis.</p>
<p>Seperti di zaman dulu, untuk memperoleh ajaran agama islam yang sejati, para ulama kemudia mengembangkan ilmu-ilmu hadis. Mereka melakukan kritik hadis lewat tiga kritik. Pertama: kritik raei, mereka memeriksa kejujuran dan daya hafal para para periwayatan hadis. Bila periwatannya hanya sejenis pewawancara imajiner, hadisnya dsebut maudhu’. Bila periwayatanya kurang bagus daya hafalnya, hadisnya disebut dha’if. Kedua, kritik sanad, urutan periwayat hadis itu haruslah bersambung, tidak terputus. Salah seorang saja hilang maka akan dinyatakan terputus sanadnya.</p>
<ol>
<li>PRINSIP QAULAN BALIGHAN</li>
</ol>
<p>“Berkatalah pada mereka tentang diri mereka dengan qaulan balighan (QS. An-nissa:63)”, kata balighan berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Oleh karena itu prinsip qaulan balighan dapat diterjemahkan sebagai prinsip komunikasi yang efektif.</p>
<p>Al-quran memerintahkan kita berbicara yang efektif. Semua perintah hukumannya wajib selama tidak ada keterangan lain yang meringankan. Begitu bunyi kaidah yang dirumuskan ushul fiqh, al-queran pun melarang kita melakukan komunikasi yang tidak efektif. Keterangan ini yang memperkokoh larangan ini, yaitu perkataan Nabi Muhammad SAW, Katakanlah dengan baik, bila tidak mampu diamlah.</p>
<p>Berikut ini perincian al-quran tentang qaulan balighan.</p>
<p>1. <em>Qaulan balighan</em> terjadi bila komunikator menyesuaikan pembicaraannya denagn sifat sifat komunikan. Dalam istilah Al-Quran , ia berbicara <em>fi anfusihim</em> (tentang diri mereka). Dalam istilah sunah, “berkomunikasilah kamu sesuai dengan kadar akal mereka”. Pada zaman modern, ahli komunikasi berbicara tentang <em>frame of reference</em> dan <em>field of experience </em>. Komunikator baru efektif bila ia menyesuaikan pesannya dengan kerangka rujukan dan medan pengalaman komunikannya. Didalam Al-Quran tertulis ,<em>” Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus menjelaskan dengann bahasa kaumnya”</em>(QS.Ibrahim:4)</p>
<p>2. <em>Qaulan balighan </em>terjadi bila komunikator menyentuh komunikan pada hati dan otaknya sekaligus. Aristoteles pernah menyebut tiga cara efektif untuk memengaruhi manusia, yaitu <em>ethos , logos dan pathos</em>. Dengan ethos , kita merujuk pada kualitas komunikator(pengetahuaan yang sangat tinggi ). Dengan logos kita meyakinkan komunikan tentang kebenaran argumentasi kita. Dengan pathos kita bujuk komunikan untuk mengikuti pendapat kita.</p>
<p>C. PRINSIP QAULAN MA`RUFAN</p>
<p>Kata <em>Qaulan Ma`rufan</em> disebutkan Allah dalam Al-Quran sebanya lima kali. Dalam QS An-Nissa :5, QS An-Nissa:8, QS Al Baqarah 235, QS Al Baqarah :263,QS Al-Ahzab : 32.</p>
<p>Kata <em>ma`rufan</em> dari kelima ayat tersebut, berbentuk isim <em>ma`ful</em> dari kta <em>arafa</em> , besinonim dengan kata <em>al-khair </em>atau <em>al-ikhsan</em> yang berarti baik. Dan <em>wakuuluu linnasi husnan</em> sederajat dengan kalimat <em>qaulan ma`rufan</em> yang bermakana perkataan yang baik atau ungkapan yang pantas. Perkataan yang baik itu maksudnya perkataan yang menimbulkan rasa tentram dan damai bagi orang yang mendengarkannya baik <em>interpersonal communication , group communication </em>dan<em> Mass communication</em>. Selanjutnya Rakhmat juga menjelaskan bahwa <em>Qaulan Ma`rufan</em> berarti perkataan yang baik. Dan <em>Qaulan Ma`rufan</em> berarti pembicaraan yang bermanfaat ,memberikan pengetahuan, mencerahkan pemikiran, dan menunjukan pemecahan kesulitan.</p>
<p><em>Qaulan Ma`rufan </em>lebih banyak ditunjukan kepada wanita atau orang yang kurang beruntung kehidupannya. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang dtuntut untuk dapat berkomunikasi dengan pantas kepada orang lain.</p>
<p>Berdasarkan paparan tersebut, dpat disimpulakan betapa pentingnya berbicara yang baik dengan siapapun , dimanapun, dan kapanpun, dengan syarat pembicaraan itu dapat mendatangkan manfaat dan pahala baik untuk komunikator dan juga komunikan.</p>
<p>Kriteria kebaikan menurut Aristoteles:</p>
<p>1. Kebaikan mulia adalah kebaikan yang kemuliaannya berasal dar essensinya, dan membuat orang yang mendapatkannya menjadi mulia. Itulah kearifan dan nalar.</p>
<p>2. Kebaikan terpuji adalah kebaikan dan tindakan sukarela yang positif</p>
<p>3. Kebaikan potensial adalah kesiapan memperolah kebaikan mulia dan kebaikan terpuji.</p>
<p>4. Kebaikan yang bermanfaat adalah segala hal yang diupayakan untuk memperoleh kebaikan kebaikan lainnya .</p>
<p>Kebaikan itu pula dapat dikategorikan , sebagai berikut :</p>
<p>1. Kebaikan subtantif, yaitu kebaikan bukan terjadi kemudian , melainkan sudah bersamaan dengan Allah. Allah adalah kebaikan pertama karena segala sesuatu mengarah kepadaNya, mendambakannya untuk memperoleh kebaikan Ilahi seperti kekekalan, keabadian dan kesempurnaan.</p>
<p>2. Kebaikan kuantitas, yaitu kebaikan yang berkenaan dengan angka bilangan dan jumlahnya yang memadai.</p>
<p>3. Kebaikan yang berkenaan dengan kualitas, yaitu kenikmatan.</p>
<h2><strong>D. PRINSIP QAULAN KARIMAN</strong></h2>
<p>Kata Qaulan kariman dlam Al-Quran hanya disebutkan satu kali yaitu dlam surat Al-Isr ayat 23:</p>
<p><em>“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan m,enyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu-Bapakmu dengan sebaik baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu , seklai kali janganlah kamu mengatakan kepada kedanya perkatan ah dan kamu janganlah membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia.”</em></p>
<p>Subtansi ayat diatas menggandung makna:</p>
<p>1. Berkenaan dengan tuntunan berakhlak kepada Allah</p>
<p>2. Berkenaan dengan tuntunan berakhlak kepada kedua orang tua.</p>
<p>Dalam tafsir <em>Al-Azhar</em> menjelaskan Akhlak kepada Allah merupakan pokok etika(Akhlak) sejati. Sebab ,hanya Allah semata yang berjasa pada kita, yang menganugrahi hidup kita, memberi rezeki, memberi perlindungan dan akal kecil.</p>
<p>Tuntunan akhlak kepaad orang tua berarti pengabdian yang wajib dilakukan seorang anak kepada kedua orang tuanya.</p>
<p>Khusus berkenaan dengan <em>Qaulan Kariman</em> yang berarti perkataan yang baik, enak didengar,dan manis dirasakan, Al Mawardi dalam buku <em>Lidah Tak Bertulang </em>, mengartikan <em>Qaulan Kariman</em> adalah perkataan dan ucapan ucapan yang baik dan mencerminkan kemuliaan.</p>
<p>Sedangkan Wahab Al-Zuhaily dalam <em>Tafsir Munir</em> mengartikan <em>Qaulan Kariman</em> adalah ,<em>“Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang lemah lembut dan baik yang disertai sikap sopan santun, hormat, dan ramah tamah dan bertatakrama.”</em></p>
<p>Lebih tegas , Al-Maraghi menjelaskan ,“Ucapkanlah denagn ucapan yang baik kepada kedua orang tua dengan ucapan yang manis , dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, sesuai denagn kesopanan yang baik, dan sesuai dengan tuntunan kepribadian yang luhur. Janganlah kalian memanggil orang tua dengan nama mereka, dan janganlah kamu meninggikan suaramu dihadapan orang tua, dan janganlah kamu meemlototkan/membelalakkan matamu terhadap mereka berdua.”</p>
<p>Kriteria Qaulan Kariman:</p>
<p>1. Kata kata yang bijaksana (fasih ,tawaduk), yaitu kata kata yang bermakna agung , teladan , dan filosofis.</p>
<p>2. Kata kata yang bekualitas, yaitu kata kata yang bermakna dalam, berniali tinggi, jujur, dan ilmiah. Kata kata yang sering diucapkan oleh orang orang cerdas berpendidikan tinggi dan filsuf.</p>
<p>3. Kata kata yang bermanfaat , yaitu kata kata yang memiliki efek positif bagi perubahan sikap dan perilaku komunikan.</p>
<h2><strong>E. PRINSIP KAULAN LAYYINAN</strong></h2>
<p>Kata qaulan Layyinan disbutkan dalam QS Thaahaa: 44 , yang bebunyi,” <em>Maka berbicaralah kamu berdua kepadanyna dengan kata kata yang lemah lembut , mudah mudahan ia ingat akan takut.”</em></p>
<p>Menurut Al-Maraghi Qaulan Layyinan berarti pembicaraan yang lemah lembut agar lebih dapat mnyentuh hati dan menariknya untuk menerima dakwah.</p>
<p>Sedangkan menurut Ibnu kasir ,yang dimaksud layyinan ialah kata kata sindiran / bukan dengan kata kata terus terang.</p>
<p>Dan menurut Al-Zuhaily mengatakan, “Maka katakanlah kepadanya (Firaun) dengan tutur kata yang lemah lembut(penuh persaudaraan) dan manis didengar, tidak menampakkan kekerasandan nasihatilah dia dengan ucapan yang lemah lembut agar dia lebih tertarik karena dia akan merasa takuk dengan siksa yang dijadikan oleh Allah melaui lisannya.” Maksudnya agar nabi Musa dan Nabi Harun meninggalkan sikap yang kasar.</p>
<p>Berdasarkan tiga pendapat diatas dapat disimpulakan <em>Qaulan Layyinan</em> memiliki makna kata kata yang lemah lembut, suara yang enak didengar , sikap yang bersahabat, dan perilaku yang menyenangkan dalam menyerukan agama Allah.</p>
<p>Dengan kata kata <em>Qaulan Layyinan</em>, orang yang diajak berkomunikasi akan merasa tersentuh hatinya, tergerak jiwannya dan tentram batinnya , sehingga ia akan mengikuti kita.</p>
<p>Dari ayat Al-Hujurat ayat 2 , Luqman ayat 19, dan An-Nisaa ayat 158 dapat ditarik kesimpulan yakni :</p>
<p>1. Larangan bekata keras, berarti bahwa suara yang bernada keras dan tinggi akan mendatangkan emosi yang berlebihan , mengundang setan, dan meruntuhkan akal sehat.</p>
<p>2. Larangan berkata buruk, (kata kata yang kotor)</p>
<p>3. Perintah berkata lunak, yang bernada sederhana.</p>
<p>Dalam konteks ini Wilbur Schramm mengemukakan <em>the contition of success in communicaton</em>, yang memiliki 2 persyaratan , yaitu :</p>
<p>1. Ditinjau dari pesannya:</p>
<p>a) Pesan harus disusun dan direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian komunikan</p>
<p>b) Pesan harus menggunakan lambang lambang yang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan</p>
<p>c) Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan mengarahkan beberapa cara untuk mendapatkan kebutuhan tsb.</p>
<p>d) Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memeproleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi dimana komunikan berada pada saat ia digerakan untuk mendapatkan tanggapan yang dikehendaki.l</p>
<p>e) Pesan harus mengguanakan kata kata yang sedrhana, halus, lembut, dan tidak ambigu.</p>
<p>2. Ditinjau dari komunikatornya harus memiliki 2 kriteria yakni :</p>
<p>a) Source credibility, komunikator harus memiliki keahlian tentang masalah yang sedang dibicarakan.</p>
<p>b) Source attractiveness atau daya tarik komunikator</p>
<h2><strong>F. PRINSIP QAULAN MAYSURAN</strong></h2>
<p>Al-Isra Ayat 28 ,” dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas(baik).</p>
<p>Ayat diatas menunjukan , Allah memberikan pendidikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjunjukan sikap yang arif dan bijaksana dalam menghadapi keluarga dekat, orang miskin, dan musafir.</p>
<p>Secara etimologis , kata <em>Masyuran</em> berasal dari kata <em>Yasara</em> yang artinya mudah atau gampang. Digabung dengan kata <em>Qaulan</em> menjadi <em>Qaulan Masyuran</em> berarti berkata dengan mudah dan gampang. Berkata dengan mudah maksudnya kata kata yang digunakan mudah dicerna, mudah dimengerti, dan dipahami oleh komunikan.</p>
<p>Dalam tafsir Al-Maraghi kata <em>Qaulan Masyuran </em>berarti kata kata yang mudah dan lunak.</p>
<p>Menurut Hamka, dalam <em>Tafsir Al-Azhar</em> , Qaulan Masyuran berarti kata kata yang menyenangkan. Sekalan dengan itu Wahab Al-Zuhaily dalam Tafsir Munir menyatakan “Maka ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mudah dipahami, lunak dan lemah lembut.”</p>
<p>Selanjutnya menurut Rakhmat bahwa <em>Qaulan Masyuran</em> , lebih tepat diartikan ucapan yang menyenagkan, lawannya adalah ucapan yang menyulitkan. <em>Qaulan Ma`ruafan</em> berisi petunjuk , <em>Qaulan Masyuran</em> berisi hal hal yang menggembirakan.</p>
<p>Para ahli komunikasi menyebutkan dua dimensi komunikasi:</p>
<p>1. Isi pesan (content)</p>
<p>2. Penyampaian pesan(metakomunikasi)</p>
<p>Salah satu prinsip komunikasi dalam Islam adalah setiap berkomunikasi harus bertujuan mendekatkanmanusia dengan Tuhannya dan hamba hambanya yang lain. Dan Islam mengharamkan hal yang sebaliknya .</p>
<p>Seorang komunikator yang baik adalah komunikator yang mampu menampilakan dirinya sehingga disukai dan disenangi orang lain. Untk bisa disenangi orang lain , ia harus memiliki sikap simpati(menempatkan diri kita secara imaginaif dalam posisis orang lain) dan empati( berada pada posisi orang lain).</p>
<p>Dari beberapa pendapa ahli tersebut, dapat dipahami bahwa simpati dan empati titik beratnya berkenaan dengan sikap seseorang yang meleburkan diri kepada perasaan orang lain yang sedang mengalami kesedihan atau kebahagiaan.</p>
<p>Namun dalam komunikasi, tidak hanya sikap simpati dan empati yang dianggap penting karena sikap tersebut relatif abstrak dan tersembunyi., tetapi harus dibarengi juga dengan pesan pesan komunikasi yang disampaikan secra bijaksana dan menyenangkan.</p>
<p>Bila pesan pesan itu disampaikan dengan bijaksana , menyentuh hati,dan menyenangkan orang yang dijaka bicara , akan melahirkan komunikasi yang komunikatif, dan pada gilirannya akan melahirkan komunikasi yang efektif, yaitu komunikasi yang mencapai sasaran dengan baik dengan umpan balik yang positif.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/journalistiani.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/journalistiani.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/journalistiani.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/journalistiani.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/journalistiani.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/journalistiani.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/journalistiani.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/journalistiani.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/journalistiani.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/journalistiani.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/journalistiani.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/journalistiani.wordpress.com/26/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/journalistiani.wordpress.com/26/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/journalistiani.wordpress.com/26/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=26&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journalistiani.wordpress.com/2010/05/04/bab-4-prinsip-prinsip-komunikasi-menurut-al-quran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe55cbe960b2550166f05aa42ddeb809?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">journalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PEMBERLAKUAN UU PENYIARAN DAN P3/SPS DALAM MENGAWASI IKLAN KAMPANYE PEMILU MELALUI LEMBAGA PENYIARAN</title>
		<link>http://journalistiani.wordpress.com/2009/05/07/pemberlakuan-uu-penyiaran-dan-p3sps-dalam-mengawasi-iklan-kampanye-pemilu-melalui-lembaga-penyiaran/</link>
		<comments>http://journalistiani.wordpress.com/2009/05/07/pemberlakuan-uu-penyiaran-dan-p3sps-dalam-mengawasi-iklan-kampanye-pemilu-melalui-lembaga-penyiaran/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 07 May 2009 11:53:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>journalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journalistiani.wordpress.com/?p=24</guid>
		<description><![CDATA[KPI komisi penyiaran indonesia 
lembanga negara independen<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=24&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Kepada Yth :<br />
1.    Seluruh Dirut Televisi dan Radio Swasta di Indonesia<br />
2.    Dirut TVRI dan RRI<br />
3.    Ketua ATVSI, ATVLI, PRSSNI, ARSELI</p>
<p align="center">SURAT EDARAN<br />
KOMISI PENYIARAN INDONESIA PUSAT<br />
Nomor SE-01/KPI/02/2009<br />
TENTANG<br />
PEMBERLAKUAN UU PENYIARAN DAN P3/SPS DALAM MENGAWASI<br />
IKLAN KAMPANYE PEMILU MELALUI LEMBAGA PENYIARAN</p>
<p>Sebagaimana diketahui Mahkamah Konstitusi dalam sidangnya tanggal 24 Februari 2009 telah mengumumkan keputusan Mahkamah Konstitusi Nomor : 32/PUU-VI/2008 tentang perkara Permohonan Pengujian UU Nomor 10 Tahun 2008 mengenai Pemilu anggota DPR, DPD, dan DPRD khususnya pasal 98 ayat (2), ayat (3) dan ayat (4) serta pasal 99 ayat (1) &amp; ayat (2) dari UU tersebut. Keputusan Mahkamah Konstitusi tentang perkara tersebut adalah :</p>
<p>a)    Pasal 98 ayat (2), ayat(3), dan ayat (4) serta Pasal 99 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dinyatakan bertentangan  dengan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945.<br />
b)    Pasal 98 ayat (2), ayat (3), dan ayat (4) serta Pasal 99 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Anggota Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah, dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah dinyatakan  tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.</p>
<p>Implikasi dari keputusan MK tersebut, dikaitkan dengan kegiatan Kampanye Pemilu melalui Lembaga Penyiaran serta tugas pengawasan yang dilaksanakam oleh KPI adalah sebagai berikut :</p>
<p>1)    Pengawasan serta pengenaan sanksi atas pelanggaran terhadap kegiatan Kampanye melalui Lembaga Penyiaran ( Radio dan Televisi ) akan tetap dijalankan oleh KPI berdasarkan UU Penyiaran No. 32 Tahun 2002 dan P3/SPS yang telah ditetapkan KPI.<br />
2)    Khusus mengenai Iklan Kampanye Pemilu, KPI akan mengawasi substansi isinya sementara mengenai frekuensi dan durasinya tidak ada pembatasan, karena UU Penyiaran maupun P3/SPS tidak mengatur mengenai frekuensi dan durasi dari spot iklan Pemilu. UU Penyiaran hanya membatasi total spot iklan Niaga untuk LPS sebanyak-banyaknya 20 % sedangkan LPP paling banyak 15 % termasuk ILM untuk LPS sekurang-kurang nya 10 % dari siaran iklan niaga dan LPP sekurang-kurangnya 30 % dari siaran iklannya.</p>
<p>Demikian agar menjadi maklum dan dapat dipahami. Atas perhatian  dan kerjasama Saudara  kami sampaikan terima kasih.</p>
<p>Ditetapkan di :  Jakarta<br />
Pada Tanggal :  27 Februari 2009<br />
Ketua KPI,</p>
<p>Prof. Sasa Djuarsa Sendjaja,Ph.D<br />
Tembusan :<br />
1.    Presiden RI<br />
2.    Ketua Komisi I DPR RI<br />
3.    Menkominfo<br />
4.    Kapolri<br />
5.    KPU<br />
6.    Bawaslu<br />
7.    KPID se-Indonesia<br />
8.    Dewan Pers<br />
9.    P3I<br />
10.    Arsip</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/journalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/journalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/journalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/journalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/journalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/journalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/journalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/journalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/journalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/journalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/journalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/journalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/journalistiani.wordpress.com/24/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/journalistiani.wordpress.com/24/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=24&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journalistiani.wordpress.com/2009/05/07/pemberlakuan-uu-penyiaran-dan-p3sps-dalam-mengawasi-iklan-kampanye-pemilu-melalui-lembaga-penyiaran/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe55cbe960b2550166f05aa42ddeb809?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">journalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Bahasa Jurnalistik Radio &amp; TV</title>
		<link>http://journalistiani.wordpress.com/2009/02/21/bahasa-jurnalistik-radio-tv/</link>
		<comments>http://journalistiani.wordpress.com/2009/02/21/bahasa-jurnalistik-radio-tv/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 21 Feb 2009 04:41:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>journalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journalistiani.wordpress.com/?p=22</guid>
		<description><![CDATA[Oleh ASM. ROMLI<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=22&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align:left;">Bahasa Jurnalistik Radio &amp; TV Oleh ASM. ROMLI</p>
<p style="text-align:left;">BAHASA Jurnalistik berlaku di media radio dan televisi (TV) utamanya dalam program pemberitaan (news program). Perbedaannya dengan jurnalistik cetak adalah dalam hal teknis penulisan naskah dan pilihan kata (diksi).  Teknis Penulisan  Naskah berita (news sript) radio/TV bukan untuk dibaca pendengar/pemirsa, tetapi untuk dibaca, disampaikan, disuarakan, atau diperdengarkan oleh penyaji berita (news presenter) atau pembaca berita (news reader).  Naskah berita harus mudah dibaca oleh presenter, mudah dimengerti oleh pendengar/pemirsa, dan saat dibacakan oleh presenter harus terdengar seolah-olah sang ia tidak sedang membaca, tapi ”berbicara” (talk). Teknik membaca naskah demikian dikenal dengan sebutan spoken reading.   Oleh karena itu, penulisan naskah harus memenuhi prinsip penulisan sebagai berikut: 1.	Write The Way You Talk. Tuliskan sebagaimana cara Anda mengatakannya. Menulis naskah radio adalah ”menulis untuk berbicara”, bukan membaca atau menatap; “menulis untuk telinga”, bukan untuk mata, sehingga penyiar “mengucapkannya, bukan membacanya” (saying it, not reading it).   2.	Bahasa Tutur. Menggunakan bahasa atau kata-kata yang biasa digunakan dalam percakapan sehari-hari (spoken words, everyday language) dan susunan kalimatnya bergaya obrolan (conversational).  Pukul 16.00 WIB  Jam Empat Sore Rp 10.000  10-Ribu Rupiah Partai Berani Kalah (PBK)  Partai Berani Kalah atau P-B-K  Dewi (22 thn)  Dewi berusia 22 tahun.  3.	KISS – Keep It Simple and Short. Gunakan kata-kata dan kalimat yang sederhana dan singkat sehingga mudah dimengerti. Kalimat panjang, selain menyulitkan pengucapan oleh penyiar, juga biasanya sulit dicerna. Sebaliknya, kalimat pendek akan mudah diucapkan penyiar dan dipahami pendengar.  4.	ELF – Easy Listening Formula. “Rumus enak didengar”, yaitu susunan kalimat yang jika diucapkan enak didengar dan mudah dimengerti pada pendengaran pertama. Naskah siaran haruslah “sekali ucap langsung dimengerti”.   Karakteristik Naskah 1. Jelas. Kata dan kalimat yang disusun harus “sekali ucap langsung dimengerti”.   2. Ringkas. Satu ide untuk satu kalimat. Hindari pemakaian anak kalimat. Naskah harus disusun dengan kalimat-kalimat ringkas sebagaimana kalimat yang biasa diucapkan saat bercakap-cakap.   3. Sederhana. Kata-kata yang digunakan harus sederhana, umum digunakan dalam percakapan keseharian, tidak rumit, atau tidak teknis-ilmiah yang kurang dikenal di kalangan awam.   4. Aktif. Gunakan kalimat aktif, bukan pasif.   6. Hindari Akronim. Kalaupun harus menggunakannya, beri keterangan sesudah atau sebelum dikemukakan.   7. Pembulatan Angka. Informasi radio sifatnya global, tidak detil, karenanya angka-angka sebaiknya dibutalkan, misalnya 1.052 menjadi “seribu lebih”.  8. Global. Hindari sedapat mungkin detil yang tidak perlu, sederhanakan fakta.   9. Logis. Hindari susunan kalimat yang terbalik. Susunan kalimat yang baik mengikuti kaidah SPOK – Subjek, Predikat, Objek, dan Keterangan.   10. Bercerita, Storytelling. Gunakan kalimat tidak langsung atau hindari penggunaan kalimat langsung. Naskah harus “bercerita”, yakni “menceritakan” orang berbicara apa, di mana, bagaimana, kenapa, dan sebagainya.   11. Sign-Posting. Gunakan tanda-tanda baca (punctuation) dalam kalimat, seperti tanda-tanda pemenggalan kalimat, jeda, dan ejaan  12. Penulisan Nama. Nama tidak boleh ditempatkan pada awal kalimat. Jangan memulai dengan nama karena terlalu mudah lepas dari pendengaran. Sebutkan lebih dulu atribusi (kata keterangan seperti jabatan atau identitas lain) orang itu, baru namanya.  Tulis: seorang mahasiswa UIN Bandung, Dewi, mengatakan…. BUKAN: Dewi, seorang mahasiswa UIN Bandung, mengatakan…  15. Penulisan Waktu. Gunakan kata-kata “kemarin”,  “hari ini”,  dan  “besok”,  BUKAN Senin, Selasa, dan Rabu  16. Mata uang ditulis di belakang angka, tidak disingkat, dan tidak menggunakan lambang mata uang. Tulis rupiah untuk Rp, dolar untuk $, dan seterusnya. Rp 145.325,50 = 145 ribu rupiah. (www.romeltea.com)*</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/journalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/journalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/journalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/journalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/journalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/journalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/journalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/journalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/journalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/journalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/journalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/journalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/journalistiani.wordpress.com/22/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/journalistiani.wordpress.com/22/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=22&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journalistiani.wordpress.com/2009/02/21/bahasa-jurnalistik-radio-tv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe55cbe960b2550166f05aa42ddeb809?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">journalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Pedoman Bahasa Jurnalistik</title>
		<link>http://journalistiani.wordpress.com/2009/01/03/pedoman-bahasa-jurnalistik/</link>
		<comments>http://journalistiani.wordpress.com/2009/01/03/pedoman-bahasa-jurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 03 Jan 2009 10:39:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>journalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journalistiani.wordpress.com/?p=5</guid>
		<description><![CDATA[#setiap media ada peraturan-peraturan untuk penulisan atau &#8220;steal book&#8221; . persatuan wartawan Indonesia (PWI) mengeluarkan sepuluh pedoman pemakaian bahasa dalam pers, didalamnya membicarakan tentang ejaan, singkatan, akronim, imbuhan, pemakaian kalimat pendek, ungkapan klise, kata mubajir, kata asing, dan istilah teknis dan tiga aspek jurnalistik. pedoman ejaan dalam bahasa indonesia khususnya dalam surat kabar itu harus [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=5&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>#setiap media ada peraturan-peraturan untuk penulisan atau &#8220;steal book&#8221; .</p>
<p>persatuan wartawan Indonesia (PWI) mengeluarkan sepuluh pedoman pemakaian bahasa dalam pers, didalamnya membicarakan tentang ejaan, singkatan, akronim, imbuhan, pemakaian kalimat pendek, ungkapan klise, kata mubajir, kata asing, dan istilah teknis dan tiga aspek jurnalistik.</p>
<p>pedoman ejaan dalam bahasa indonesia khususnya dalam surat kabar itu harus diperhatikan</p>
<p>para wartawan harus membatasi singkatan atau akronim maka satu kali ia harus menjelaskan dalam tanda kurung kepanjangan akronim.</p>
<p>contoh : Dinas Perhubungan (DISHUB)</p>
<p>aparat kepolisian bekerjasama dengan DISHUB (Dinas Perhubungan)</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/journalistiani.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/journalistiani.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/journalistiani.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/journalistiani.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/journalistiani.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/journalistiani.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/journalistiani.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/journalistiani.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/journalistiani.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/journalistiani.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/journalistiani.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/journalistiani.wordpress.com/5/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/journalistiani.wordpress.com/5/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/journalistiani.wordpress.com/5/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=5&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journalistiani.wordpress.com/2009/01/03/pedoman-bahasa-jurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe55cbe960b2550166f05aa42ddeb809?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">journalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Resume kedua Bahasa Jurnalistik</title>
		<link>http://journalistiani.wordpress.com/2008/12/24/resume-kedua-bahasa-jurnalistik/</link>
		<comments>http://journalistiani.wordpress.com/2008/12/24/resume-kedua-bahasa-jurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 24 Dec 2008 12:06:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>journalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journalistiani.wordpress.com/?p=13</guid>
		<description><![CDATA[EYD dalam Bahasa Jurnalistik -EYD posisinya umum bagi para pengguna bahasa Indonesia, bagi para jurnalistik pun memakai bahasa EYD tapi ada pengecualian. -dalam penulisan jurnalistik tidak boleh pengulanggan huruf, seperti”imadduddin” A. PENULISAN HURUF KAPITAL 1. jabatan tidak diikuti nama orang Menurut Caleg Jawa Barat, anggaran untuk kampanye sudah disediakan, diharapkan setiap RTuntuk menyediakan proposal terlebih [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=13&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>EYD dalam Bahasa Jurnalistik<br />
-EYD posisinya umum bagi para pengguna bahasa Indonesia, bagi para jurnalistik pun memakai bahasa EYD tapi ada pengecualian.<br />
-dalam penulisan jurnalistik tidak boleh pengulanggan huruf, seperti”imadduddin”</p>
<p>A. PENULISAN HURUF KAPITAL<br />
1. jabatan tidak diikuti nama orang<br />
Menurut Caleg Jawa Barat, anggaran untuk kampanye sudah disediakan, diharapkan setiap RTuntuk menyediakan proposal terlebih dulu.<br />
2. huruf pertama nama bangsa<br />
3. nama geografi sebagai nama jenis<br />
4. setian unsure bentuk ulang sempurna<br />
5. penulisan kata depan dan kata sambung<br />
-singkatan: yang tersusun dari huruf-huruf awal dari sebuah nama<br />
-akronim: yang disusun dan pengglangan kata, baik penglanan kata awal/akhir<br />
- setiap media ada peraturan-peraturan untuk penulisannya “steal book”<br />
-contoh kalimat akronim<br />
UNBAR Universitas Bandung Raya<br />
DISHUB Dinas Perhibungan<br />
Contoh: aparat kepolisian bekerja sama dengan dinas perhubungan (dishub) dalam mengatur lalu lintas.<br />
Dinas perhubungan (dishub) bekrja sama dengan polisi dalam pengaturan jalan.</p>
<p>Infesi: intonasi pengaturan nafas</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/journalistiani.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/journalistiani.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/journalistiani.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/journalistiani.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/journalistiani.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/journalistiani.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/journalistiani.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/journalistiani.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/journalistiani.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/journalistiani.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/journalistiani.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/journalistiani.wordpress.com/13/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/journalistiani.wordpress.com/13/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/journalistiani.wordpress.com/13/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=13&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journalistiani.wordpress.com/2008/12/24/resume-kedua-bahasa-jurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe55cbe960b2550166f05aa42ddeb809?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">journalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>BAHASA JURNALISTIK</title>
		<link>http://journalistiani.wordpress.com/2008/12/03/bahasa-jurnalistik/</link>
		<comments>http://journalistiani.wordpress.com/2008/12/03/bahasa-jurnalistik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 03:39:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>journalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journalistiani.wordpress.com/?p=9</guid>
		<description><![CDATA[Bahasa jurnalistik atau biasa disebut dengan bahasa pers, merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, dan ragam bahasa literer (sastra) (Sudaryanto, 1995). Dengan demikian bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain. Bahasa jurnalistik merupakan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=9&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Bahasa jurnalistik atau biasa disebut dengan bahasa pers, merupakan salah satu ragam bahasa kreatif bahasa Indonesia di samping terdapat juga ragam bahasa akademik (ilmiah), ragam bahasa usaha (bisnis), ragam bahasa filosofik, dan ragam bahasa literer (sastra) (Sudaryanto, 1995). Dengan demikian bahasa jurnalistik memiliki kaidah-kaidah tersendiri yang membedakannya dengan ragam bahasa yang lain.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span>Bahasa jurnalistik merupakan bahasa yang digunakan oleh wartawan (jurnalis) dalam menulis karya-karya jurnalistik di media massa (Anwar, 1991). Dengan demikian, bahasa Indonesia pada karya-karya jurnalistiklah yang bisa dikategorikan sebagai bahasa jurnalistik atau bahasa pers. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Bahasa jurnalistik itu sendiri juga memiliki karakter yang berbeda-beda berdasarkan jenis tulisan apa yang akan terberitakan. Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menuliskan reportase investigasi tentu lebih cermat bila dibandingkan dengan bahasa yang digunakan dalam penulisan features.<span> </span>Bahkan bahasa jurnalistik pun sekarang sudah memiliki kaidah-kaidah khas seperti dalam penulisan<span> </span>jurnalisme perdamaian (McGoldrick dan Lynch, 2000). Bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis berita utama—ada yang menyebut laporan utama, forum utama&#8211;<span> </span>akan berbeda dengan bahasa jurnalistik yang digunakan untuk menulis tajuk dan features. Dalam menulis banyak faktor yang dapat<span> </span>mempengaruhi karakteristik bahasa jurnalistik karena penentuan masalah, angle tulisan, pembagian tulisan, dan sumber (bahan tulisan). Namun demikian sesungguhnya bahasa jurnalistik tidak meninggalkan kaidah yang dimiliki oleh ragam bahasa Indonesia baku dalam hal pemakaian kosakata, struktur sintaksis dan wacana (Reah, 2000). Karena berbagai keterbatasan yang dimiliki surat kabar (ruang, waktu) maka bahasa jurnalistik memiliki sifat yang khas yaitu singkat, padat, sederhana, lancar, jelas, lugas dan menarik. Kosakata yang digunakan dalam bahasa jurnalistik mengikuti perkembangan bahasa dalam masyarakat.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Sifat-sifat tersebut merupakan hal yang harus dipenuhi oleh ragam bahasa jurnalistik mengingat surat kabar dibaca oleh semua lapisan masyarakat yang tidak sama tingkat pengetahuannya. Dengan kata lain bahasa jurnalistik dapat dipahami dalam ukuran intelektual minimal. Hal ini dikarenakan tidak setiap orang memiliki cukup waktu untuk membaca surat kabar. Oleh karena itu bahasa jurnalistik sangat mengutamakan kemampuan untuk menyampaikan semua informasi yang dibawa kepada pembaca secepatnya<span> </span>dengan mengutamakan daya komunikasinya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Dengan perkembangan jumlah pers yang begitu pesat pasca pemerintahan Soeharto—lebih kurang ada 800 pelaku pers baru—bahasa pers juga menyesuaikan pasar. Artinya,<span> </span>pers sudah menjual wacana tertentu, pada golongan tertentu, dengan isu-isu yang khas.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Pemakaian Bahasa Jurnalistik</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span>Terdapat berbagai<span> </span>penelitian yang terkait dengan bahasa, pikiran, ideologi, dan media massa cetak di Indonesia. Anderson (1966, 1984) meneliti pengaruh bahasa<span> </span>dan budaya Belanda serta Jawa dalam perkembangan bahasa politik Indonesia modern, ketegangan bahasa Indonesia yang populis dan bahasa Indonesia yang feodalis.<span> </span>Naina (1982) tentang perilaku pers Indonesia terhadap kebijakan pemerintah seperti yang termanifestasikan dalam Tajuk Rencana. Hooker (1990) meneliti model wacana zaman orde lama dan orde baru. Penelitian tabor Eryanto (2001) tentang analisis teks di media massa. Dari puluhan penelitian yang breakout dengan pers, tenyata belum terdapat penelitian yang secara khusus memformulasikan karakteristik (ideal) bahasa jurnalistik berdasarkan induksi karakteristik<span> </span>bahasa pers yang termanifestasikan dalam kata, kalimat, dan wacana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;">Di awal tahun 1980-an terbersit berita bahwa bahasa Indonesia di media massa menyimpang dari kaidah bahasa Indonesia baku. Roni Wahyono (1995) menemukan kemubaziran bahasa wartawan di Semarang dan Yogyakarta pada aspek gramatikal (tata bahasa), leksikal (pemilihan kosakata) dan ortografis (ejaan). Berdasarkan aspek kebahasaan, kesalahan tertinggi yang dilakukan wartawan terdapat pada aspek gramatikal dan kesalahan terendah pada aspek ortografi. Berdasarkan jenis berita, berita olahraga memiliki frekuensi kesalahan tertinggi dan frekuensi kesalahan terendah pada berita kriminal. Penyebab wartawan melakukan kesalahan bahasa dari faktor penulis karena minimnya penguasaan kosakata, pengetahuan kebahasaan yang<span> </span>terbatas, dan kurang bertanggung jawab terhadap pemakaian bahasa, karena kebiasaan lupa dan pendidikan yang belum baik. Sedangkan faktor di luar penulis, yang menyebabkan wartawan melakukan kesalahan dalam menggunakan bahasa Indonesia karena keterbatasan waktu menulis, lama kerja, banyaknya naskah yang dikoreksi, dan tidak tersedianya redaktur bahasa dalam surat kabar.<span> </span></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span style="font-size:12pt;line-height:115%;font-family:&quot;"><span> </span>Walaupun di dunia penerbitan telah ada buku-buku jurnalistik praktis karya Rosihan Anwar (1991), Asegaf (1982), Jacob Oetama (1987), Ashadi Siregar, dll, namun masih perlu dimunculkan petunjuk akademik maupun teknis pemakaian bahasa jurnalistik. Dengan mengetahui karakteristik bahasa pers Indonesia—termasuk sejauh mana mengetahui penyimpangan yang terjadi, kesalahan dan kelemahannya,&#8211; maka akan dapat diformat pemakaian bahasa jurnalistik yang komunikatif.</span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/journalistiani.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/journalistiani.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/journalistiani.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/journalistiani.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/journalistiani.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/journalistiani.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/journalistiani.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/journalistiani.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/journalistiani.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/journalistiani.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/journalistiani.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/journalistiani.wordpress.com/9/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/journalistiani.wordpress.com/9/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/journalistiani.wordpress.com/9/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=9&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journalistiani.wordpress.com/2008/12/03/bahasa-jurnalistik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe55cbe960b2550166f05aa42ddeb809?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">journalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Mak Erat sang penjual gorengan</title>
		<link>http://journalistiani.wordpress.com/2008/12/03/mak-erat-sang-penjual-gorengan/</link>
		<comments>http://journalistiani.wordpress.com/2008/12/03/mak-erat-sang-penjual-gorengan/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Dec 2008 03:37:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>journalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://journalistiani.wordpress.com/?p=7</guid>
		<description><![CDATA[Kehidupan Mak Erat bisa dibilang serba kekurangan. Tempat tinggal yang bisa kita sebut rumah, bagi Mak Erat hanya tempat untuk berteduh dari teriknya panas dan hujan. Dingin bilik bambu bekas, tanah sebagai lantainya, dan genting retak pun jadi atap, seperti itulah kondisi rumah Mak Erat. Rumahnya di kampung kamasan RT.03 RW. Kec. Banjaran ini kurang [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=7&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Kehidupan Mak Erat bisa dibilang serba kekurangan. Tempat tinggal yang bisa kita sebut rumah, bagi Mak Erat hanya tempat untuk berteduh dari teriknya panas dan hujan. Dingin bilik bambu bekas, tanah sebagai lantainya, dan genting retak pun jadi atap, seperti itulah kondisi rumah Mak Erat. Rumahnya di<span> </span>kampung kamasan RT.03 RW. Kec. Banjaran ini kurang layak dengan luas yang hanya 4mx3m. tapi rumah inilah yang Mak Erat tempati selama tiga tahun lamanya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Dulu Mak Erat tinggal bersama suaminya pak Karso dan keempat anak perempuannya. Mereka bekerja sebagai buruh tani. “kapungkur mah Emak sareng bapak teh tukang buruh tani, upami aya nu miwarang didamel, upami henteu nya panginten bapak, kasab kana naon weh sangacap-cagapeun nana, (Dulu Emak dan bapak, buruh tani, kalau ada yang menyuruh ya kerja kalau tidak ada paling bapak kerja apa saja sebisanya)” ujar Mak Erat .</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Kehidupan keluarganya dari dulu memang sudah berat, apalagi saat pak Karto meninggal, kehidupanyang mereka jalani semakin berat, tapi untungglah tiga dari empat anak perempuan mak erat sudah menikah jadi tanggung jawab keluarga tidak terlalu berat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;line-height:150%;">Ternyata tiga anak yang sudah menukah itu, tetap saja tidak berubah keadaannya. Kehidupan make rat tidak ada kemajuan . anak-anak mak erat yang sudah berkeluarga mereka tidak pernah memperhatikan bagaimana kehidupan ibunya sekarang, malah mereka menambah beban sang ibu. “ah upami sepuh mah teu ngaraos direpotken masing marulangkalih tos gaduh kelurga ge, msing kumha ge emak mah nyaah emak mah teu ngaharepken bantosan ti anak da emak oge masih keneh mamapu” ujar mak erat sambil mengeluarkan air mata.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;text-indent:36pt;">Sekarang usia make rat sudah 64 tahun, umur sekian beliau masih mampu mengerjakan yang semestinya bukan kerjaannya, misalnya menjajahkan gorengan keman-kemn, beliu mengerjkn sendiri tnp da ras sakit hati kepd nknya yang tidak sama sekali perahatian kepadanya, mak erat tetap senang menjalani hidup seperti ini, krena mk yakin suatu saat nanti ada kehidupan yang lebih baik lagi (di akhirat), beliau selalu berdoa semoga apa yang dia lakukan selama hidupnya diberikan safa’at dan yang mak ingginkan jika mk erat meninggal beliau mengingnkan meninggalnya anak-anaknya bisa kumpul seperti biasa dn mati dengan sahid, begitu ujar mak erat sat dimintai keterangan.<span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;line-height:150%;"><span> </span><span> </span></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/journalistiani.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/journalistiani.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/journalistiani.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/journalistiani.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/journalistiani.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/journalistiani.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/journalistiani.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/journalistiani.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/journalistiani.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/journalistiani.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/journalistiani.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/journalistiani.wordpress.com/7/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/journalistiani.wordpress.com/7/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/journalistiani.wordpress.com/7/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=7&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journalistiani.wordpress.com/2008/12/03/mak-erat-sang-penjual-gorengan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe55cbe960b2550166f05aa42ddeb809?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">journalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Hello world!</title>
		<link>http://journalistiani.wordpress.com/2008/10/11/hello-world/</link>
		<comments>http://journalistiani.wordpress.com/2008/10/11/hello-world/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 11 Oct 2008 12:07:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>journalistiani</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false"></guid>
		<description><![CDATA[Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=1&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Welcome to <a href="http://wordpress.com/">WordPress.com</a>. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/journalistiani.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/journalistiani.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/journalistiani.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/journalistiani.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/journalistiani.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/journalistiani.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/journalistiani.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/journalistiani.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/journalistiani.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/journalistiani.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/journalistiani.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/journalistiani.wordpress.com/1/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/journalistiani.wordpress.com/1/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/journalistiani.wordpress.com/1/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=journalistiani.wordpress.com&amp;blog=5142143&amp;post=1&amp;subd=journalistiani&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://journalistiani.wordpress.com/2008/10/11/hello-world/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://1.gravatar.com/avatar/fe55cbe960b2550166f05aa42ddeb809?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">journalistiani</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
