PEMBERDAYAAN ANAK JALANAN

Sejumlah masalah sosial tampaknya akan terus membayangi Kota Bandung. Meskipun telah dilakukan langkah penanganan oleh Dinas Sosial (Dinsos) Kota Bandung, jumlah penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) cenderung meningkat setiap tahun.

Jumlah anak jalanan menurut data Dinsos Kota Bandung pada 2007 mencapai 4.212.  Pada 2009 jumlah tersebut menjadi 4.821 atau naik 609 anak. Mereka yang termasuk dalam kategori anak jalanan adalah anak berusia lima sampai delapan belas tahun dan berkeliaran di jalan atau tempat umum minimal empat jam/hari dalam kurun waktu satu bulan. Sementara itu, gelandangan dan pengemis yang pada 2007 berjumlah 4.714, pada 2009 menjadi 5.074 atau naik 360 orang.

Data tersebut menunjukkan lonjakan jumlah anak jalanan di Kota Bandung memprihatinkan. Padahal, sebagai cikal bakal generasi penerus, mereka seharusnya dipersiapkan untuk masa depan bangsa, bukannya dibiarkan bergelut dengan ”ilmu jalanan” yang cenderung merusak. Bandung juga mulai dikenal dengan sebutan baru sebagai ”Kota Anak Jalanan”.

Data yang diperoleh Dinsos sungguh memprihatinkan 609 anak putus sekolah, mereka adalah cikal bakal penerus bangsa ini, dengan alasan putus sekolah mereka menyambung hidupnya degan mengemis, mengamen dijalanan, penyebab utama mereka putus sekolah dikarnakan sudah tidak sanggup lagi membiayai dan pernyataan itu terlontar dari orang tua yang kebetulan anaknya putus sekolah dan berkerja dijalanan.

Sistem ekonomi yang menjadi penyebab utama, sungguh ironis para generasi muda minimakan pengetahuan, yang didapat hayalah bagaimana caranya bertahan hidup, padahal dengan bersekolah semua ilmu akan didapat dan perkerjaan yang diperoleh jauh lebih bagus, bangsa ini sudah mengalami krisis kepercayaan pemimpin , jika generasi penerus yang akan menjadi calon-calon pemimpin akan mengalami kegagalan dalm pencalonan karena pendidikan mereka sangatlah minim, bagaiman bangsa kita akan maju jika pendidikan belum dibenahi oleh para pemerintahan.

Berdasarkan berbagai fakta masalah, penyusun merumuskan masalah anak jalanan di kota Bandung, Anak-anak Jalanan di kota Bandung adalah anak-anak dari keluarga miskin yang karena faktor ketidakmampuan ekonomi keluarganya menyebabkan mereka terpaksa atau dipaksa untuk bekerja di jalan-jalan yang ada di kota Bandung tanpa bekal pendidikan, pengetahuan dan keterampilan yang memadai.

Penghasilan Anak Jalanan di kota Bandung umumnya sangat rendah sehingga tidak mempunyai daya ungkit terhadap perbaikan ekonomi kehidupannya dan keluarganya sehingga mempunyai kecenderungan yang besar untuk hidup dalam lingkaran kemiskinan, Anak Jalanan di kota Bandung rentan terhadap berbagai tindak kekerasan fisik, psikis dan seksual.

Program-program penanganan anak jalanan yang dilakukan oleh Pemerintah maupun pihak-pihak swasta (LSM), antara lain program Rumah Singgah terbukti tidak efektif dan tidak menyelesaikan masalah, Anak jalanan yang sudah mendapatkan pelatihan keterampilan dan bantuan dari Pemerintah maupun pihak-pihak lain terpaksa kembali ke jalan karena kondisi ekonomi keluarganya yang miskin.

Masyarakat yang berdaya adalah mereka yang memperoleh pemahaman dan mampu mengawasi daya-daya sosial, ekonomi, dan politik sehingga harkat dan martabatnya meningkat.

Lebih jauh, Kindervatter (1979 : 13) mendefinisikan pemberdayaan atau empowering sebagai “people gaining an understanding of and control over social, economic, and/or political forces in order to improve their standing in society”.

Anak jalanan adalah anak yang terkategori tak berdaya. Mereka merupakan korban berbagai penyimpangan dari oknum-oknum yang tak bertanggung jawab. Untuk itu, mereka perlu diberdayakan melalui demokratisasi, pembangkitan ekonomi kerakyatan, keadilan dan penegakan hukum, partisipasi politik, serta pendidikan luar sekolah.

Anak jalanan, pada hakikatnya, adalah “anak-anak”, sama dengan anak-anak lainnya yang bukan anak jalanan. Mereka membutuhkan pendidikan. Pemenuhan pendidikan itu haruslah memperhatikan aspek perkembangan fisik dan mental mereka. Sebab, anak bukanlah orang dewasa yang berukuran kecil. Anak mempunyai dunianya sendiri dan berbeda dengan orang dewasa. Kita tak cukup memberinya makan dan minum saja, atau hanya melindunginya di sebuah rumah, karena anak membutuhkan kasih sayang. Kasih sayang adalah fundamen pendidikan. Tanpa kasih, pendidikan ideal tak mungkin dijalankan. Pendidikan tanpa cinta menjadi kering tak menarik.

Dalam mendidik anak, ibu dan ayah harus sepaham. Mereka harus bertindak sebagai sahabat anak, kompak dengan guru, sabar sebagai benteng perlindungan bagi anak, menjadi teladan, rajin bercerita, memilihkan mainan, melatih disiplin, mengajari bekerja, dan meluruskan sifat buruk anaknya (misalnya : berkata kotor, berkelahi, suka melawan, pelanggaran sengaja, mengamuk, keras kepala, selalu menolak, penakut, manja, nakal), Keluarga yang ideal dan kondusif bagi tumbuh-kembangnya anak, sangat didambakan pula oleh anak-anak jalanan. Keluarga ideal bagi tumbuh kembang anak itu dapat digambarkan sebagai berikutt.

Pendidikan, pada prinsipnya, hendaknya mempertahankan anak yang masih sekolah dan mendorong mereka melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, juga memfasilitasi anak yang tak lagi bersekolah ke program pendidikan luar sekolah yang setara dengan sekolah. Program itu antara lain berupa : Kejar Paket A dan Kejar Paket B yang merupakan program pendidikan setara SD/SLTP dan pelatihan-pelatihan.

upaya pemberdayaan kepada anak-anak jalanan seyogyanya terus digalakkan melalui berbagai penyelenggaraan program pendidikan luar sekolah (misalnya : Kejar Paket A, Kejar Paket B, Kejar Usaha, bimbingan belajar dan ujian persamaan, pendidikan watak dan agama, pelatihan olahraga dan bermain, sinauwisata, pelatihan seni dan kreativitas, kampanye, forum berbagi rasa, dan pelatihan taruna mandiri).

Penyelenggaraan program tersebut seyogyanya menerapkan partisipasi/kolaborasi maksimal, yaitu melibatkan berbagai pihak secara lintas sektoral, lintas disiplin ilmu, dan lintas kawasan dalam kerjasama secara maksimal, baik para akademisi maupun praktisi.

Anak jalanan masih berpeluang untuk mengubah nasibnya melalui belajar; karena itu perlu menggali sumber atau pendukung program. Agar anak-anak jalanan mau mengikuti program, maka sumber belajar harus bersikap empati dan mampu meyakinkan kepada mereka, bahwa program pendidikan tersebut benar-benar mendukung pengembangan diri mereka. Untuk itu, penguasaan terhadap karakteristik dan kebutuhan belajar anak-anak jalanan akan sangat membantu para sumber belajar untuk bersikap empati kepada mereka.

Benrbagai peluar banyak sekali jika ada yang memeperhatikan keadaan sekitar, dengan keberadaan anak jalanan tidak sedikit merasa terganggu dengan keberadaan mereka dijalanan, karena lalulintas bukan tempat area bermain, tapitidak sedikit juga yang merasa iba dengan apa yang mereka alami, dari sana bisa mengulurkan bantuan bisa dengan cara menyediakan lapangan kerja atau memberikan pelatihan khusus buar mereka, walaupun mereka kurang pengetahuannya tentang keilmuan bukanbereti mereka tidak sanggup menerima pelatihan yang akan jadi bekal mereka kelak.

Setelah diperhatikan ternyata bantuan selalu ada, mulai diadakannya belajar bersama dijalanan, dan ada juga yang mengikuti pelatihan musik, dan pelatihan lainya yang bisa jadi penopang hidup mereka, tapi yang terpenting adalah peran orang tua yang sangat mempengaruhi sikap, prilaku anak-anak, karena peran merekalah yangpaling penting, bimbingan harus selalu diberikan bila orang tua sudah tidak bisa memebrikan bimbingannya maka sulit untuk merubah sikapnya sendiri, perhatian orang tua yang paling penting.

Tinggalkan Balasan

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Ubah )

Connecting to %s


Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.