BAB 4
PRINSIP-PRINSIP
KOMUNIKASI MENURUT AL-QURAN
Al-quran menyebutkan komunikasi sebagai salah satu fitrah manusia,untuk mengetahui bagaimana manusia seharusnya berkomunikasi, ternyata sudah jelas di Al-quran memberikan beberapa kata kunci yang berhubungan dengan hal itu. Yaitu Asy-syaukoni, misalnya mengartikan kata kunci al-bana sebagai kemampuan bekomunikasi.
Allah menciptakan manusia mengajarkan al-bana (pandai berbicara)seperti didalam ayat Ar-Rahman ayat 1-4. untuk mengetahui manusia seharusnya berkomunikasi dengan selalu melacak kata-kata kunci di dalamal-quran unutk berkomunikasi.
- PRINSIP-PRINSIP QAULAN SADIDAN
Kata qaulan sadidan disebut dua kali dalam Al-quran. Pertama Allah menyuruh manusia menyampaikan qaulan sadidan dalam urusan anak yatim dan keturunannya, “Dan hendaklah orang-orang takut kalau dibelakang hari, mereka meninggalkan keturunan yang lemah yang mereka kwatirkan” (kesejahtraannya). Hendaklah mereka bertaubat kepada Allah dan berkata qaulan sadidan.
Kedua, Allah memerintahkan qaulan sadidan sesudah takwa:
“hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkan qaulan sadida. Nanti Allah akan membaikan amal-amalkamu, mengampuni dosa kamu. Siapa yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya ia mencapai keberuntungan yang besar.”
Apa artinya qaulan sadidan?? Qaulan sadidan artinya pembicaraan yang benar, jujur (pichhall menerjemahkannya straight to the paoin), lurus tidak bohong, dan tidak berbelit-belit. Prinsip komunikasi yang pertama menurut al-quran adalah berkata benar.
Al-quran menyatakan bahwa berbicara yang benardan menyampaikan pesan yang benar adalh persyaratan untuk kebesaran kebaikan, kemaslahatan amal. Apabila kita ingin mnyukseskankarya kita dan memperbaiki masyarakat kita, kita harus menyebarkan pesan yang benar. Dengan kata lain masyarakat menjadi rusak apabila isi pesan komunikasi tidak benar da menyembunyikan kebenaran karena takut menghadapi rezim penguasa. Rezim yang mengnegakkan sistemya di atas penipuan atau kebohongan menurut Al-quran tidak akan bertahan lama.
Alferd Korzybski, peletak dari dasar teori general sematik menyatkan bahwa penyakit jiwa, baik individual maupun sosial, tibul karena penggunaan bahasa yang tidak benar, makin sering seseorang menyembunyikan kebenaran maka mereka sering memakai kata-kata yang sering menutupi kebenaran. Pertama: mengunakan kata-kata yangb sangat abstrak, ambigu, atau menimbulkan penafsiran yang sangat belainan apabila kita tidak setuju dengan pandangan kawan kita. Sebetulnya manusia tidak tahan dikritik, tapi manusi bisa mengelak akan hal itu, mereka akan jawab kl mereka siap dikritik tapi dengan satu syarat cara penyampaian kritikannya disampaikan secara bebas dan bertanggung jawab. Dari sini bisa kita lihan kata tanggung jawab kata-kata abstrak untuk menghilangkan dari kritikan.
Kedua: menciptakan istilah yang diberi makna lain berupa eufimisme atau pemutarbalikan makna, pemutarbalikan makna terjadi bila kata-kata yang digunakan sudah diberikan makna yang sama sekali bertentangan dengan makna yang lazim. Al-quran mengajarkan bahwa salah satu strategi memperbaiki masyarakat ialah membereskan bahasa yang kita pergunakan untuk mengunakan realitas, bukan untuk menyembunyikan.
- TIDAK BOHONG
Arti dari kata qaula sadidan adalah tidak bohong. Nabi Muhammad SAW bersabda “jauhi dusta, karena dusta membawa kamu pada dosa, dan dosa membawa kamu pada neraka. Lazimkanlah berkata jujur, karena jujur membawa kamu pada kebajikan, membawa kamu pada surga.”Al-quran menyuruh kita selalu bekata benar, supaya kita tidak meninggalkan keturunan yang lemah. Anak-anak dilatih berkata jujur, kejujuran akan melahirkan kekuatan dan kebohongan akan melahirkan kelemahan. Biasa berkata benar mencerminkan keberanian, kebohongan mencerminkan kelemahan.
- BAHAYA BOHONG
Nabi Muhammad SAW dengan mengutip Al-quran menjelaskan bahwa orng beriman tidak akn berdusta. Dalam perkembangan sejarah, umat islam sering dirugikan karena berita-berita dusta. Yang paling parah ketika berbohong memasuki teks-teks suci yang menjadi rujukan. Kebohongan tidak berhasil memasuki al-quran karena keaslian al-quran dijamin oleh Allah (juga karena kaum muslimin hanya memiliki satu mushaf al-quran). Tetapi kebohongan telah menyusup kedalm penafsiran al-quran makna al-quran pernah disimpangkan untuk kepentingan pribadi atau golongan. Dalam al-quran sudah jelas bahwa bohong itu salah satu perbuatan yang dilarang karena akan menimbulkan marabahaya yang besar.
Jika kita melihat disekitar kita banyak sekali yang terjerumus dengan kebohongannya sediri, dan mereka mendapatkan hasil yang setimpal. Banyak sekali yang bisa kita angkat menjadi salah satu contoh, kita gambarkan seperti kasus yang menimpah mantan ketua KPK Antasari Azhar, beliau sudah berbohong dengan mencari-cari alasn dengan cara semua orang yang terlibat ternyata petinggi Negara semua, dan akhirnya kebohongan terungkap semua setelah jatuh korban, dan ternyata semua yang terlibat mendapat hasil yang setimpal maka janganlah berani berbohong karena bahaya bohong lebih berat dan sadis.
Seperti di zaman dulu, untuk memperoleh ajaran agama islam yang sejati, para ulama kemudia mengembangkan ilmu-ilmu hadis. Mereka melakukan kritik hadis lewat tiga kritik. Pertama: kritik raei, mereka memeriksa kejujuran dan daya hafal para para periwayatan hadis. Bila periwatannya hanya sejenis pewawancara imajiner, hadisnya dsebut maudhu’. Bila periwayatanya kurang bagus daya hafalnya, hadisnya disebut dha’if. Kedua, kritik sanad, urutan periwayat hadis itu haruslah bersambung, tidak terputus. Salah seorang saja hilang maka akan dinyatakan terputus sanadnya.
- PRINSIP QAULAN BALIGHAN
“Berkatalah pada mereka tentang diri mereka dengan qaulan balighan (QS. An-nissa:63)”, kata balighan berarti fasih, jelas maknanya, terang, tepat mengungkapkan apa yang dikehendaki. Oleh karena itu prinsip qaulan balighan dapat diterjemahkan sebagai prinsip komunikasi yang efektif.
Al-quran memerintahkan kita berbicara yang efektif. Semua perintah hukumannya wajib selama tidak ada keterangan lain yang meringankan. Begitu bunyi kaidah yang dirumuskan ushul fiqh, al-queran pun melarang kita melakukan komunikasi yang tidak efektif. Keterangan ini yang memperkokoh larangan ini, yaitu perkataan Nabi Muhammad SAW, Katakanlah dengan baik, bila tidak mampu diamlah.
Berikut ini perincian al-quran tentang qaulan balighan.
1. Qaulan balighan terjadi bila komunikator menyesuaikan pembicaraannya denagn sifat sifat komunikan. Dalam istilah Al-Quran , ia berbicara fi anfusihim (tentang diri mereka). Dalam istilah sunah, “berkomunikasilah kamu sesuai dengan kadar akal mereka”. Pada zaman modern, ahli komunikasi berbicara tentang frame of reference dan field of experience . Komunikator baru efektif bila ia menyesuaikan pesannya dengan kerangka rujukan dan medan pengalaman komunikannya. Didalam Al-Quran tertulis ,” Tidak kami utus seorang rasul kecuali ia harus menjelaskan dengann bahasa kaumnya”(QS.Ibrahim:4)
2. Qaulan balighan terjadi bila komunikator menyentuh komunikan pada hati dan otaknya sekaligus. Aristoteles pernah menyebut tiga cara efektif untuk memengaruhi manusia, yaitu ethos , logos dan pathos. Dengan ethos , kita merujuk pada kualitas komunikator(pengetahuaan yang sangat tinggi ). Dengan logos kita meyakinkan komunikan tentang kebenaran argumentasi kita. Dengan pathos kita bujuk komunikan untuk mengikuti pendapat kita.
C. PRINSIP QAULAN MA`RUFAN
Kata Qaulan Ma`rufan disebutkan Allah dalam Al-Quran sebanya lima kali. Dalam QS An-Nissa :5, QS An-Nissa:8, QS Al Baqarah 235, QS Al Baqarah :263,QS Al-Ahzab : 32.
Kata ma`rufan dari kelima ayat tersebut, berbentuk isim ma`ful dari kta arafa , besinonim dengan kata al-khair atau al-ikhsan yang berarti baik. Dan wakuuluu linnasi husnan sederajat dengan kalimat qaulan ma`rufan yang bermakana perkataan yang baik atau ungkapan yang pantas. Perkataan yang baik itu maksudnya perkataan yang menimbulkan rasa tentram dan damai bagi orang yang mendengarkannya baik interpersonal communication , group communication dan Mass communication. Selanjutnya Rakhmat juga menjelaskan bahwa Qaulan Ma`rufan berarti perkataan yang baik. Dan Qaulan Ma`rufan berarti pembicaraan yang bermanfaat ,memberikan pengetahuan, mencerahkan pemikiran, dan menunjukan pemecahan kesulitan.
Qaulan Ma`rufan lebih banyak ditunjukan kepada wanita atau orang yang kurang beruntung kehidupannya. Hal ini dimaksudkan agar setiap orang dtuntut untuk dapat berkomunikasi dengan pantas kepada orang lain.
Berdasarkan paparan tersebut, dpat disimpulakan betapa pentingnya berbicara yang baik dengan siapapun , dimanapun, dan kapanpun, dengan syarat pembicaraan itu dapat mendatangkan manfaat dan pahala baik untuk komunikator dan juga komunikan.
Kriteria kebaikan menurut Aristoteles:
1. Kebaikan mulia adalah kebaikan yang kemuliaannya berasal dar essensinya, dan membuat orang yang mendapatkannya menjadi mulia. Itulah kearifan dan nalar.
2. Kebaikan terpuji adalah kebaikan dan tindakan sukarela yang positif
3. Kebaikan potensial adalah kesiapan memperolah kebaikan mulia dan kebaikan terpuji.
4. Kebaikan yang bermanfaat adalah segala hal yang diupayakan untuk memperoleh kebaikan kebaikan lainnya .
Kebaikan itu pula dapat dikategorikan , sebagai berikut :
1. Kebaikan subtantif, yaitu kebaikan bukan terjadi kemudian , melainkan sudah bersamaan dengan Allah. Allah adalah kebaikan pertama karena segala sesuatu mengarah kepadaNya, mendambakannya untuk memperoleh kebaikan Ilahi seperti kekekalan, keabadian dan kesempurnaan.
2. Kebaikan kuantitas, yaitu kebaikan yang berkenaan dengan angka bilangan dan jumlahnya yang memadai.
3. Kebaikan yang berkenaan dengan kualitas, yaitu kenikmatan.
D. PRINSIP QAULAN KARIMAN
Kata Qaulan kariman dlam Al-Quran hanya disebutkan satu kali yaitu dlam surat Al-Isr ayat 23:
“Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan m,enyembah selain dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada Ibu-Bapakmu dengan sebaik baiknya. Jika salah seorang diantara keduanya atau kedua duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu , seklai kali janganlah kamu mengatakan kepada kedanya perkatan ah dan kamu janganlah membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia.”
Subtansi ayat diatas menggandung makna:
1. Berkenaan dengan tuntunan berakhlak kepada Allah
2. Berkenaan dengan tuntunan berakhlak kepada kedua orang tua.
Dalam tafsir Al-Azhar menjelaskan Akhlak kepada Allah merupakan pokok etika(Akhlak) sejati. Sebab ,hanya Allah semata yang berjasa pada kita, yang menganugrahi hidup kita, memberi rezeki, memberi perlindungan dan akal kecil.
Tuntunan akhlak kepaad orang tua berarti pengabdian yang wajib dilakukan seorang anak kepada kedua orang tuanya.
Khusus berkenaan dengan Qaulan Kariman yang berarti perkataan yang baik, enak didengar,dan manis dirasakan, Al Mawardi dalam buku Lidah Tak Bertulang , mengartikan Qaulan Kariman adalah perkataan dan ucapan ucapan yang baik dan mencerminkan kemuliaan.
Sedangkan Wahab Al-Zuhaily dalam Tafsir Munir mengartikan Qaulan Kariman adalah ,“Ucapkanlah kepada mereka perkataan yang lemah lembut dan baik yang disertai sikap sopan santun, hormat, dan ramah tamah dan bertatakrama.”
Lebih tegas , Al-Maraghi menjelaskan ,“Ucapkanlah denagn ucapan yang baik kepada kedua orang tua dengan ucapan yang manis , dibarengi dengan rasa hormat dan mengagungkan, sesuai denagn kesopanan yang baik, dan sesuai dengan tuntunan kepribadian yang luhur. Janganlah kalian memanggil orang tua dengan nama mereka, dan janganlah kamu meninggikan suaramu dihadapan orang tua, dan janganlah kamu meemlototkan/membelalakkan matamu terhadap mereka berdua.”
Kriteria Qaulan Kariman:
1. Kata kata yang bijaksana (fasih ,tawaduk), yaitu kata kata yang bermakna agung , teladan , dan filosofis.
2. Kata kata yang bekualitas, yaitu kata kata yang bermakna dalam, berniali tinggi, jujur, dan ilmiah. Kata kata yang sering diucapkan oleh orang orang cerdas berpendidikan tinggi dan filsuf.
3. Kata kata yang bermanfaat , yaitu kata kata yang memiliki efek positif bagi perubahan sikap dan perilaku komunikan.
E. PRINSIP KAULAN LAYYINAN
Kata qaulan Layyinan disbutkan dalam QS Thaahaa: 44 , yang bebunyi,” Maka berbicaralah kamu berdua kepadanyna dengan kata kata yang lemah lembut , mudah mudahan ia ingat akan takut.”
Menurut Al-Maraghi Qaulan Layyinan berarti pembicaraan yang lemah lembut agar lebih dapat mnyentuh hati dan menariknya untuk menerima dakwah.
Sedangkan menurut Ibnu kasir ,yang dimaksud layyinan ialah kata kata sindiran / bukan dengan kata kata terus terang.
Dan menurut Al-Zuhaily mengatakan, “Maka katakanlah kepadanya (Firaun) dengan tutur kata yang lemah lembut(penuh persaudaraan) dan manis didengar, tidak menampakkan kekerasandan nasihatilah dia dengan ucapan yang lemah lembut agar dia lebih tertarik karena dia akan merasa takuk dengan siksa yang dijadikan oleh Allah melaui lisannya.” Maksudnya agar nabi Musa dan Nabi Harun meninggalkan sikap yang kasar.
Berdasarkan tiga pendapat diatas dapat disimpulakan Qaulan Layyinan memiliki makna kata kata yang lemah lembut, suara yang enak didengar , sikap yang bersahabat, dan perilaku yang menyenangkan dalam menyerukan agama Allah.
Dengan kata kata Qaulan Layyinan, orang yang diajak berkomunikasi akan merasa tersentuh hatinya, tergerak jiwannya dan tentram batinnya , sehingga ia akan mengikuti kita.
Dari ayat Al-Hujurat ayat 2 , Luqman ayat 19, dan An-Nisaa ayat 158 dapat ditarik kesimpulan yakni :
1. Larangan bekata keras, berarti bahwa suara yang bernada keras dan tinggi akan mendatangkan emosi yang berlebihan , mengundang setan, dan meruntuhkan akal sehat.
2. Larangan berkata buruk, (kata kata yang kotor)
3. Perintah berkata lunak, yang bernada sederhana.
Dalam konteks ini Wilbur Schramm mengemukakan the contition of success in communicaton, yang memiliki 2 persyaratan , yaitu :
1. Ditinjau dari pesannya:
a) Pesan harus disusun dan direncanakan sedemikian rupa sehingga dapat menarik perhatian komunikan
b) Pesan harus menggunakan lambang lambang yang tertuju kepada pengalaman yang sama antara komunikator dan komunikan
c) Pesan harus membangkitkan kebutuhan pribadi komunikan dan mengarahkan beberapa cara untuk mendapatkan kebutuhan tsb.
d) Pesan harus menyarankan suatu jalan untuk memeproleh kebutuhan tadi yang layak bagi situasi dimana komunikan berada pada saat ia digerakan untuk mendapatkan tanggapan yang dikehendaki.l
e) Pesan harus mengguanakan kata kata yang sedrhana, halus, lembut, dan tidak ambigu.
2. Ditinjau dari komunikatornya harus memiliki 2 kriteria yakni :
a) Source credibility, komunikator harus memiliki keahlian tentang masalah yang sedang dibicarakan.
b) Source attractiveness atau daya tarik komunikator
F. PRINSIP QAULAN MAYSURAN
Al-Isra Ayat 28 ,” dan jika kamu berpaling dari mereka untuk memperoleh rahmat dari Tuhannya yang kamu harapkan, maka katakanlah kepada mereka ucapan yang pantas(baik).
Ayat diatas menunjukan , Allah memberikan pendidikan kepada Nabi Muhammad SAW untuk menjunjukan sikap yang arif dan bijaksana dalam menghadapi keluarga dekat, orang miskin, dan musafir.
Secara etimologis , kata Masyuran berasal dari kata Yasara yang artinya mudah atau gampang. Digabung dengan kata Qaulan menjadi Qaulan Masyuran berarti berkata dengan mudah dan gampang. Berkata dengan mudah maksudnya kata kata yang digunakan mudah dicerna, mudah dimengerti, dan dipahami oleh komunikan.
Dalam tafsir Al-Maraghi kata Qaulan Masyuran berarti kata kata yang mudah dan lunak.
Menurut Hamka, dalam Tafsir Al-Azhar , Qaulan Masyuran berarti kata kata yang menyenangkan. Sekalan dengan itu Wahab Al-Zuhaily dalam Tafsir Munir menyatakan “Maka ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mudah dipahami, lunak dan lemah lembut.”
Selanjutnya menurut Rakhmat bahwa Qaulan Masyuran , lebih tepat diartikan ucapan yang menyenagkan, lawannya adalah ucapan yang menyulitkan. Qaulan Ma`ruafan berisi petunjuk , Qaulan Masyuran berisi hal hal yang menggembirakan.
Para ahli komunikasi menyebutkan dua dimensi komunikasi:
1. Isi pesan (content)
2. Penyampaian pesan(metakomunikasi)
Salah satu prinsip komunikasi dalam Islam adalah setiap berkomunikasi harus bertujuan mendekatkanmanusia dengan Tuhannya dan hamba hambanya yang lain. Dan Islam mengharamkan hal yang sebaliknya .
Seorang komunikator yang baik adalah komunikator yang mampu menampilakan dirinya sehingga disukai dan disenangi orang lain. Untk bisa disenangi orang lain , ia harus memiliki sikap simpati(menempatkan diri kita secara imaginaif dalam posisis orang lain) dan empati( berada pada posisi orang lain).
Dari beberapa pendapa ahli tersebut, dapat dipahami bahwa simpati dan empati titik beratnya berkenaan dengan sikap seseorang yang meleburkan diri kepada perasaan orang lain yang sedang mengalami kesedihan atau kebahagiaan.
Namun dalam komunikasi, tidak hanya sikap simpati dan empati yang dianggap penting karena sikap tersebut relatif abstrak dan tersembunyi., tetapi harus dibarengi juga dengan pesan pesan komunikasi yang disampaikan secra bijaksana dan menyenangkan.
Bila pesan pesan itu disampaikan dengan bijaksana , menyentuh hati,dan menyenangkan orang yang dijaka bicara , akan melahirkan komunikasi yang komunikatif, dan pada gilirannya akan melahirkan komunikasi yang efektif, yaitu komunikasi yang mencapai sasaran dengan baik dengan umpan balik yang positif.